
Struktur sosial dalam pembuatan kapal Pinisi bukan sekadar pembagian kerja, melainkan cerminan filosofi hidup yang mendalam.

“Sawi adalah pekerja tingkat paling dasar, biasanya pemuda baru yang ingin belajar menjadi tukang.”
Mengangkat kayu, membersihkan area kerja, menyiapkan alat, membantu tukang menggergaji, mengangkat, dan menahan papan (kerja kasar).
Belajar dasar-dasar kerja kapal, membangun disiplin & mengikuti perintah, serta melatih ketahanan fisik dan mental.

“Tukang tingkat menengah yang sudah dianggap profesional.”
Merakit papan lambung, menyesuaikan pasak kayu, memotong kayu sesuai instruksi, dan membentuk rangka bagian samping.
Menjaga ketelitian, menjaga kehormatan kerja, dan mengikuti arahan punggawa tanpa bantah.

“Level lebih tinggi dari tukang biasa, disebut sebagai pengukir bentuk (shape master).”
Mengatur garis lengkung lambung kapal, menentukan posisi pasak, menyetel rangka agar simetris, dan mengoreksi kesalahan perakitan.
Keahlian yang sering diwariskan dari ayah ke anak, menjaga rahasia teknik leluhur, serta menentukan keindahan & kekuatan kapal.

“Tidak semua galangan punya sandro khusus, tapi dalam adat lama kedudukannya sangat penting karena 'ilmunya'.”
Menentukan hari baik memotong kayu, memimpin ritual (Annattara, Annakbang, Mappasili, Ammossi), serta 'membaca tanda' agar pembangunan selamat.
Menjadi jembatan antara manusia, alam, dan leluhur, serta menjaga keseimbangan spiritual pembangunan kapal.

“Pemimpin tertinggi yang biasanya memiliki garis keturunan tukang kapal selama beberapa generasi. Ia bukan hanya pemimpin teknis tetapi juga pemimpin budaya.”
Memilih desain kapal (panjang, lebar, bentuk), menentukan kayu, memimpin semua tukang, mengawasi teknik/struktur, dan bertanggung jawab penuh atas kekuatan kapal.
Memegang teguh nilai Sipakatau (memanusiakan sesama), Awarani (keberanian), Lempu’ (kejujuran), Mappasitinaja (ketepatan kerja), dan Masagena (kearifan & kehormatan).