
Kehebatan pelaut Bugis-Makassar menaklukan samudra tanpa teknologi modern, mengandalkan insting dan alam.
Pelaut Pinisi adalah pembaca langit yang ulung. Mereka menggunakan rasi bintang (Pajama) untuk menentukan arah di tengah kegelapan laut. Posisi bintang Pari dan Biduk menjadi kompas abadi mereka.
Mengoperasikan Pinisi membutuhkan keahlian khusus. Tujuh layar harus diatur secara manual, memanfaatkan kekuatan angin. Dua tiang utama melambangkan dua kalimat syahadat, menjaga keseimbangan kapal.
Selain bintang, pelaut membaca arus air, warna laut, dan pola terbang burung untuk mengetahui kedalaman laut atau daratan terdekat. Ini adalah ilmu yang diwariskan turun-temurun.