
Mengungkap sisi spiritual yang menghidupkan kayu menjadi penjelajah samudra.

Proses dimulai dengan pemilihan hari baik dan pemberian seserahan kepada penjaga hutan. Penebangan dilakukan oleh punggawa dengan perhitungan matang untuk mengatur arah jatuh pohon, memastikan keselamatan dan kualitas kayu.
Prosesi memotong, menandai, dan menyambung lunas yang sarat makna. Ritual ini dimaknai sebagai "perkawinan" antara elemen jantan dan betina untuk melahirkan manusia baru, yaitu sang kapal itu sendiri.
"Kami tidak hanya menyusun kayu, kami menyatukan doa. Setiap pasak adalah harapan, setiap papan adalah keyakinan."
— Tetua Adat Tana Beru

Salah satu ritual paling sakral adalah penanaman emas pada lunas kapal. Emas ini menjadi simbol "pusar" kehidupan, harapan akan harga diri, serta sebagai tolak bala. Posisi ini dianggap sebagai pusat energi spiritual kapal.
Bagi masyarakat Bugis-Makassar, kapal tanpa Posi ibarat raga tanpa jiwa. Ritual ini menegaskan bahwa Pinisi bukan sekadar benda mati, melainkan entitas yang hidup dan bersaudara dengan manusia.






"Laut tidak pernah mengkhianati mereka yang menghormatinya. Pinisi adalah jembatan antara manusia dan kemurahan hati samudra."
— Filosofi Maritim Bugis

Dilaksanakan pada malam sebelum peluncuran. Ritual ini diisi dengan pembacaan Barazanji, doa bersama, dan pemotongan kambing sebagai wujud syukur atas kelahiran "manusia baru" serta memohon perlindungan dari mara bahaya.
Puncak dari seluruh prosesi. Ratusan warga bergotong royong menarik kapal ke laut menggunakan tenaga manusia, bukan mesin. Ini adalah simbol kebersamaan yang masih hidup kuat, di mana beratnya kapal dipikul bersama dalam semangat persaudaraan.